Berlibur ke Semarang 3 Hari 2 Malam

Wisata Semarang
Wisata Semarang

Ternyata tidak semua orang tau kalau Semarang adalah ibu kota Jawa Tengah, banyak yang berpikiran kalau ibu kota Jawa Tengah adalah Yogyakarta. Semarang menjadi Ibu Kota Jawa Tengah karena merupakan salah satu kota metropolitan terbesar ke-5 yang ada di Indonesia. Di abad ke-6 Masehi, kota Semarang merupakan sebuah pelabuhan besar yang ada di Jawa Tengah yang menjadi pelabuhan transit kapal-kapal besar dunia, salah satunya adalah Laksamana Cheng Ho yang merupakan seorang Muslim berkebangsaan China yang menjadi salah satu pelaut besar di dunia. Hal tersebut yang menjadikan Semarang menjadi salah satu kota yang sangat maju dibanding kota-kota lain sekitarnya. Semarang juga terkenal dengan wilayah yang memiliki 2 suasana kota yang sangat berbeda, yaitu kota yang berada di dataran rendah atau biasa disebut kota bawah, dan kota yang berada di dataran tinggi yang biasa disebut kota atas.

Beberapa waktu yang lalu, saya beserta keluarga berkesempatan berlibur ke Semarang selama 3 hari 2 malam untuk sekedar berlibur sekaligus mengenal lebih jauh tentang kota Semarang. Yang akan saya bagikan di sini adalah cerita perjalanan kami selama 3 hari 2 malam berada di kota Semarang, semoga bisa menjadi referensi pembaca yang berencana berlibur ke kota Semarang.

Sam Poo Kong, Masjid Agung Jawa Tengah dan Lawang Sewu

Perjalanan ke Semarang cukup melelahkan karena sebelumnya kami berangkat dari Depok, Jawa Barat malam hari dengan mengendarai kendaraan roda empat. Ketika sampai di Semarang pada pukul 5.30 pagi hari adalah saat yang tepat untuk mencari sarapan khas kota  Semarang. Setelah mencari beberapa referensi dari pencarian Google, pilihan kami adalah mencoba Nasi Ayam Kemuning Mba Jum yang berlokasi di Puri Anjasmoro B1/23 Semarang. Salah satu masakan khas Semarang ini sebenarnya adalah berupa nasi, opor ayam, irisan daging ayam, sayur labu siam, telur dan krecek (bagi yang suka pedas). Sekilas mirip seperti gudeg Jogja, hanya tidak menggunakan sayur nangka saja. Menu tambahan berupa sate telur puyuh, ati ampla dan usus juga disediakan. Bagi penyuka kuliner yang baru pertama ke sini mungkin lebih baik memesan 2 porsi sekaligus, karena porsi standard di sana cukup mini untuk ukuran orang dewasa. Kios Nasi Ayam Mba Jum ini sudah buka sejak pagi sekali, pembelinya juga cukup banyak orang yang berdatangan untuk sekedar membungkus untuk dimakan di rumah atau dibawa untuk dimakan di perjalanan.

Nasi Ayam Mba Jum
Nasi Ayam Mba Jum

Hotel yang kami pesan beru bisa check in setelah jam 2 siang, sehingga kami harus memanfaatkan waktu hingga siang hari untuk mengunjungi tempat-tempat yang menarik di kota Semarang. Setalah kenyang sarapan pagi, tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah Sam Poo Kong, yaitu berupa bangunan budaya China yang memiliki nilai sejarah. Sam Poo Kong ini sebenarnya adalah bangunan yang dibangun oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Haji Mahmud Syams) pada tahun sekitar 1400an untuk tempat beristirahat ketika kapalnya berlabuh di perairan Semarang dikarenakan salah satu juru mudi kapalnya bernama Wang Jing Hong atau Kiai Juru Mudi Dampo Awang menderita sakit. Namun Laksamana Cheng Ho tidak dapat berlama-lama di sana karena harus melanjutkan perjalanan, sedangkan Wang Jing Hong akhirnya menetap di Semarang. Pada tahun 1704, Sam Poo Kong sempat terkena bencana longsor, namun segera dibangun kembali di sebelah bangunan yang lama tahun 1724. Pada tahun 1800an bangunan ini sempat dimiliki oleh seseorang keturunan Yahudi bernama Mr. Johanes dan menerapkan biaya yang besar untuk dapat memasuki bagunan ini, namun kemudian dibeli oleh seorang pengusaha lokal keturunan China bernama Oei Tjie Sing pada tahun 1879 dan membolehkan siapa saja untuk masuk secara gratis. Setelah kepemilikan dialihkan kepada Yayasan Sam Poo Kong, bagunan ini direnovasi secara keseluruhan pada tahun 1937, salah satunya adalah dibangun kelenteng (tempat peribadatan agama Kong Hu Cu) di samping bangunan Sam Poo Kong. Di depan bangunan utama sendiri terdapat patung Laksamana Cheng Ho yang tegak berdiri berlapis emas. Untuk bisa masuk ke area pelataran bangunan, wisatawan harus membayar Rp. 10,000 per orang, sedangkan jika ingin menjelajah masuk ke dalam bangunan, perlu menambahkan Rp. 20,000 per orang. Di dalam bangunan banyak terdapat ornamen yang menceritakan sejarah berdirinya bangunan tersebut.

Sam Poo Kong
Sam Poo Kong

Tujuan wisata berikutnya yang kami kunjungi adalah Masjid Agung Jawa Tengah yang beralamat di Gayamsari, Sambirejo, Semarang. Masjid ini adalah salah satu bagunan masjid karya arsitektur Ir. H. Ahmad Fanani yang memiliki luas kurang lebih 10 hektar dengan 3 bangunan utama berbentuk huruf U yang memiliki nuansa campuran Jawa dan Arab. Bangunan utama yang merupakan tempat sholat utama memiliki 4 menara di atapnya, sedangkan 2 gedung lainnya berupa auditorium dan perpustakaan. Di tengah-tengah antara ketiga bangunan tersebut terdapat 6 payung hidrolik seperti yang berada di Masjid Nabawi, Madinah yang berfungsi untuk melindungi jamaah dari hujan dan panas matahari. 6 Payung ini adalah simbol rukun iman yang berjumlah 6 dalam ajaran Islam. Pada bagian depan, terdapat tembok melengkung yang berdiri di atas 25 pilar. 25 Pilar ini melambangkan jumlah Nabi dalam ajaran Islam. Di bagian tembok itu juga terdapat kaligrafi 99 nama Allah. Pada bagian dalam ruang masjid utama terdapat Al Quran berukuran 145x95cm yang ditulis dengan tangan oleh Drs. Khyatudin dan juga terdapat bedug raksasa berukuran 3m dengan diameter lebih dari 2m.

Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah
Bagian Dalam Masjid
Bagian Dalam Masjid

Setelah puas berkeliling masjid dan sekaligus sholat dhuhur, saatnya kami untuk check in ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya. Karena sudah terlalu letih, tak banyak yang kami lakukan di siang ini, hanya memanfaatkan waktu di hotel untuk bersih-bersih dan beristirahat.

Sore hari sekitar jam 4, kami lanjutkan menjelajah kota Semarang, kali ini yang menjadi tujuan kami adalah bangunan yang menjadi icon kota Semarang, apalagi kalau bukan Lawang Sewu. Lawang Sewu berada di tengah-tengah kota Semarang, tepatnya di Jl. Pemuda, Sekayu, Semarang. Lawang Sewu adalah bangunan bersejarah yang duluya digunakan sebagai kantor Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) atau perusahaan kereta api pertama di Hindia Belanda. Arsiteknya adalah orang berkebangsaaan Belanda bernama Cosman Citroen, pembangunannya berlangsung selama 3 tahun yaitu pada tahun 1904 hingga 1907. Namun secara keseluruhan bangunan baru lengkap seperti sekarang di tahun 1919.

Lawang Sewu
Lawang Sewu

Lawang Sewu dalam sejarahnya memiliki cerita yang kelam, dalam masa penjajahan Jepang gedung ini diambil alih oleh pemerintahan Jepang. Ruang bawah tanahnya digunakan untuk penjara bawah tanah atau lebih tepatnya sebagai ruang penyiksaan. Dalam sejarahnya pada jaman pendudukan Jepang, di ruang bawah Lawang Sewu terdapat penjara yang disebut penjara jongkok, yaitu berupa penjara berbentuk bak yang memiliki ketiggian setengah meter dan di dalamnya terdapat para tahanan hanya bisa berjongkok saja karena pada bagian atas ditutup dengan terali besi, bak tersebut lalu diisi dengan air hingga seleher sehingga para tahanan tersebut akhirnya mati. Ada lagi penjara yang hanya berukuran 1×1 meter yang akan diisi 8 orang tahanan berhimpit-himpitan. Selain itu ada juga alat pemasungan yang berfungsi untuk memasung para tahanan. Banyak sekali eksekusi kematian di dalam penjara tersebut pada masa itu. Hal tersebut yang menyebabkan Lawang Sewu memiliki nuansa angker dan mistis, banyak cerita-cerita mistis terkait Lawang Sewu ini seperti penampakan none Belanda yang ketakutan, suara jeritan-jeritan aneh maupun aroma anyir darah di sekitar lokasi Lawang Sewu. Menurut informasi pemandu di sana, ruangan bawah tanah di Lawang Sewu ini sebenarnya banyak terhubung oleh terowongan-terowongan bawah tanah ke gedung-gedung tua yang ada di Semarang.

Di sisi lain, Lawang Sewu sebenarnya memiliki keindahan arsitektur gedung tersendiri. PT. KAI DAOP IV sebagai pengelelola gedung ini sebenarnya sudah berusaha untuk menghilangkan kesan mistis pada gedung Lawang Sewu ini. PT. KAI lebih mengedepankan Lawang Sewu sebagai wisata edukasi dan sejarah dari pada hanya sekedar cerita mistis yang belum diketahui kebenarannya. Memang gedung ini memiliki arsitektur cantik bernuansa klasik, banyaknya pintu di dalam gedung ini membuat gedung ini sangat fotogenic dan instagramable bagi para wisatawan yang ingin berfoto di sana.

Wisata Kuliner Malam di Waroeng Semawis Semarang

Berkeliling di Lawang Sewu tidak terasa hari sudah gelap, perut juga sudah terasa lapar sehingga kami pun bersiap untuk mencari makan malam. Kami berencana untuk mampir ke Waroeng Semawis yang merupakan pusat kuliner yang cukup terkenal di Semarang yaitu berupa pasar malam yang menjual aneka macam makanan dan hanya buka di saat weekend saja. Waroeng Semawis berada di kawasan Pecinan Semarang, jenis makanan yang ada di sana sangat beragam, mulai dari jajanan ringan seperti pisang plenet, leker, tahu gimbal hingga makanan berat seperti aneka seafood, barbaque dan kambing guling. Selain makanan khas Semarang, banyak pula makanan khas kota lain dan negara lain seperti gudeg Jogja, roti parata dari India, ramen Jepang, spaghetti Italy dan lain-lain.

Waroeng Semawis
Waroeng Semawis
Waroeng Semawis
Menu seafood yang kami pesan di Waroeng Semawis

Setelah kenyang mencoba berbagai makanan di Waroeng Semawis, kamipun kembali ke hotel untuk beristirahat agar besok bisa kembali mengeksplorasi beberapa tempat menarik lainnya.

Goa Kreo dan Kampung Pelangi

Pagi hari setelah sarapan di hotel, kami bersiap untuk mengunjungi tempat wisata lainnya di Semarang. Kali ini yang akan menjadi tujuan kami adalah sebuah objek wisata Goa Kreo di Kandri, Gunung Pati, Semarang. Yaitu obyek wisata berupa pulau kecil yang berada di tengah-tengah waduk Jatibarang yang dihubungkan dengan sebuah jembatan.  Menurut cerita para pemandu wisata setempat, wisata ini dulunya adalah tempat dimana Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk membangun masjid Agung Demak. Di sana juga terdapat 2 goa yaitu goa Kreo dan goa Landak yang dipercaya warga goa tersebut sebelumnya memiliki lorong yang sangat panjang hingga ke Demak atau Kendal. Di area tersebut banyak sekali kera liar yang berkeliaran sekeliling objek wisata yang menurut warga sekitar kera tersebut adalah para anak buah Sunan Kalijaga ketika mencari kayu jati. Walaupun hidup liar, kera-kera tersebut terlihat tidak begitu perduli dengan banyaknya wisatawan yang datang, terbukti ada beberapa ekor kera yang melewati kami saat kami sedang beristirahat. Pemandangannya sangat indah dan merupakan spot yang cukup instagramable untuk berfoto. Di sekeliling objek wisata ini, banyak sekali tempat-tempat yang menawarkan spot foto dengan latar belakang waduk Jatibarang seperti foto di atas awan, foto di rumah bambu, foto di gardu pandang dan lain-lain.

Waduk Jatibarang
Waduk Jatibarang yang mengelilingi Goa Kreo

Tak jauh dari objek wisata goa Kreo ini, terdapat kios ayam dan bebek goreng yang cukup terkenal di Semarang, namanya Ayam dan Bebek Goreng “Sari Rasa” (Pak Thori). Setalah lelah berkeliling di goa Kreo, kami menyempatkan untuk makan siang di sini, terbukti memang bebek gorengnya renyah dan krispi. Terdapat 2 macam sambal yang disediakan di sana, yang tidak terlalu pedas berwarna merah dan yang sangat pedas berwarna hijau. Sayangnya kami tak sempat mengambil foto di tempat ini.

Sore hari, kami sempatkan untuk mengunjungi kampung warna-warni yang cukup terkenal di Semarang dengan nama Kampung Pelangi. Tempat ini sebenarnya adalah sebuah kampung biasa, namun seluruh warganya sepakat untuk mengecat seluruh tembok rumah bagian luar dengan cat warna-warni sehingga membuat kampung ini menjadi incaran para wisatawan yang ingin berfoto dengan background warna-warni. Kontur tanah di kampung ini cukup unik karena kampung bagian depan sejajar dengan jalan raya, namun semakin ke belakang semakin tinggi dengan kemiringan 45 derajat. Bagian jalan berupa undakan tangga-tangga menanjak, sedangkan bagian paling atas adalah pemakaman warga. Kami sempat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana cara warga membawa jenazah ke pemakaman ketika ada warga yang meninggal melalui kondisi jalan dengan kemiringan tersebut. Karena penasaran, akhirnya kami bertanya langsung kepada warga setempat. Dijelaskan oleh warga setempat bahwa ada jalan lain melalui jalan raya yang bisa dilalui mobil, jika ada warga desa yang meninggal dunia, maka jenazah dibawa menggunakan ambulan melalui jalan alternatif tersebut.

Kampung Pelangi
Seluruh bagian tembok dicat warna-warni
Kampung Pelangi
Salah satu rumah di Kampung Pelangi

Lapangan Pancasila Semarang

Sehabis makan malam di Soto Bangkong yang merupakan soto khas di Semarang, kami habiskan waktu hingga malam hari untuk bermain-main di lapangan Simpang Lima. Lapangan ini adalah salah satu landmark kota Semarang. Lapangan dengan nama Lapangan Pancasila ini banyak dipadati oleh orang-orang yang yang ingin berolah raga atau sekedar berjalan-jalan menghabiskan malam bersama-sama. Sepanjang pinggiran lapangan Simpang Lima banyak sekali becak hias dan sepeda tandem yang ditawarkan dengan harga Rp. 30rb – 50rb, namun harganya bisa naik di saat-saat hari libur anak sekolah atau saat Lebaran. Di seberang lapangan Pancasila, terdapat pusat kuliner yang menjual berbagai macam makanan, mulai dari aneka seafood, nasi pecel, sate, ayam/bebek goreng dan lain-lain.

Lapangan Pancasila
Suasana di lapangan Pancasila Simpang Lima pada malam hari

Hari terakhir kami di Semarang adalah saatnya mencari oleh-oleh khas Semarang. Jika menyebutkan kata Semarang, oleh-oleh yang diingat adalah lumpia Semarang, sayangnya kami tak memiliki banyak waktu sehingga tidak sempat mampir ke pusat lumpia Semarang yang ada di jalan Pemuda, kami hanya sempat mampir ke toko oleh-oleh yang banyak di sepanjang jalan Padanaran. Beberapa oleh-oleh di Semarang selain lumpia adalah bandeng presto, tahu bakso dan wingko babat banyak tersedia di sepanjang jalan Padanaran.

Sampai disini dulu cerita kami mengenai itinerary kami selama berlibur ke Semarang. Mudah-mudahan bisa menjadi referensi bagi para pembaca yang juga akan berlibur ke Semarang.

Comments

Archive